Nih, yang mau cas-cis-cus: Pengantar

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Perkara ini tentang seseorang. Spesies bernama manusia yang tercipta mulia dengan akalnya.

Alkisah, seseorang ini dapat berbicara. Dia dapat melisankan pelbagai macam perkataan. Pelbagai macam tuturan. Sekali lagi. Dia dapat berbicara. Hebat bukan?

Apa hebatnya berbicara? Lihatlah, hampir semua orang dapat berbicara. Bukanlah perkara teristimewa hanya karena seseorang dapat berbicara. Sudah lazim. Mengapa harus dibesar-besarkan? Mengapa perlu digembar-gemborkan?

Berisik. Dengungan itu. Suara itu. Bersahut-sahutan. Berteriak pula.

Tiada henti setiap orang berbicara. Tersebab merasa diri mudah untuk berbicara, lalu mereka jadi banyak bicara.

Perhatikan lisan mereka. Dengarkan lisan-lisan yang terucap. Apakah pembicaraan itu melisankan perkataan yang baik? Perkataan yang berguna? Perkataan yang bermanfaat?

Aneh.

Terasa aneh apabila ada perkataan-perkataan buruk terlontar pada saat masih tersedia perkataan-perkataan yang baik.

Lupa.

Seakan lupa bahkan satu huruf yang terucap, yang mengambang di udara dan hinggap di telinga, itu akan ditanya. Siapa yang bertanya?

Terusik.

Seharusnya diri ini terusik dan berpikir, apabila telah ditetapkan dengan aturan yang jelas bahwa lisan-lisan ini kelak akan dipertanggungjawabkan, sungguh pantas saja “berpikirlah berkali-kali sebelum berbicara dan lisankan yang baik atau diam”.

Heran.

Jadi, kenapa bisa ada gosip?
Kenapa bisa ada cacian, ejekan, hinaan, celaan, umpatan?
Kenapa sampai hati terucap kata-kata kotor? Iseng? Cari perhatian? Tabiat?

Celaka.

Tiada mengapa kalau dia seorang purba tidak mengenal kata apalagi gramatika dan etika.
Tapi ini seorang cendikia. Sungguh celaka.

•••

Berbicara itu sungguh sebuah perjuangan dan nikmat yang besar. Mengapa? Adalah mekanisme berbicara (the speech mechanism) (Dardojowidjojo, 2009) yang akan menjelaskan hal ini.

Agar seseorang dapat memproduksi ujaran, maka setidaknya ada 4 elemen fundamental yang dibutuhkan: (1) paru-paru, (2) pita suara, (3) resonator, dan (4) artikulator. Paru-paru merupakan bentuk massa yang lembut dan kenyal yang berfungsi seperti pompa yang dapat menerima udara dan juga mendorong udara ini keluar. Ketika manusia bernapas, ia menghirup udara dari luar. Proses ini menyebabkan paru-paru mengempis. Sebaliknya, ketika ia menghembuskan napas, paru-paru mengembang untuk mendorong udara keluar.

Pada saat menghirup, udara masuk melalui hidung atau mulut, melewati resonator yang disebut faring atau hulu kerongkongan. Di ujung bawah faring, bagian ini dibagi menjadi dua: satu untuk makanan (disebut esofagus atau kerongkongan) dan bagian yang lain untuk bernapas dan berbahasa. Setelah mencapai faring, udara turun ke paru-paru melewati laring dan trakea.

Ketika manusia ingin memproduksi suara, ia mendorong udara keluar dari paru-paru. Udara melewati laring atau bagian atas tenggorok yang berisi pita suara. Dalam istilah awam laring sering disebut sebagai jakun (Adam’s Apple). Udara mungkin dapat dimodifikasi oleh pita suara atau mungkin juga tidak. Fungsi pita suara, antara lain, untuk menentukan apakah bunyi ini bersuara atau tidak bersuara.

Sesudah melewati pita suara, udara bergerak lebih jauh sampai ke faring pada saat pita suara beresonansi atau bergetar. Faring adalah tabung berotot memanjang dari dasar tengkorak ke kerongkongan di belakang laring. Ketika udara meninggalkan faring, udara ini memiliki dua pilihan untuk keluar, yakni keluar melalui mulut atau hidung.

Apabila udara keluar melalui mulut, bagian belakang langit-langit lunak, yaitu uvula, menutup saluran hidung (nasal passage), mencegah udara melarikan diri melalui rongga hidung (nasal cavity). Semua suara yang diproduksi demikian disebut suara mulut (oral sounds). Sedangkan, apabila udara keluar melalui hidung, velum dan uvula diturunkan sehingga memungkinkan udara keluar melalui hidung. Aliran udara dari paru-paru terhalang oleh bagian tertentu dari mulut, tetapi kemudian dilepaskan melalui hidung. Suara-suara yang diproduksi demikian disebut suara hidung (nasals).

Di dalam mulut ada bagian yang menghalangi aliran udara. Bagian ini disebut artikulator, yaitu bibir, gigi, lidah, dan langit-langit mulut (palate). Bibir dapat dirapatkan satu sama lain untuk menghalangi aliran udara. Ketika udara kemudian dilepaskan melalui mulut, tercipta bunyi mulut [p] dan [b]. Adapun ketika udara dilepaskan melalui hidung, tercipta suara nasal [m]. Selain itu, bibir bawah dapat dirapatkan dengan ujung gigi atas dan udara yang lolos dari celah ini menghasilkan bunyi frikatif (bunyi desah), sebagai contoh [f] ferry dan [v] very.

Sementara itu, lidah dibagi menjadi beberapa bagian. Bagian yang paling dekat di depan disebut ujung lidah. Sedikit di belakang itu adalah daun lidah (blade), diikuti lebih jauh ke belakang disebut bagian depan (front), belakang (back), dan akar (root) lidah. Kecuali untuk root, setiap bagian dari lidah dapat ditempatkan dalam posisi tertentu untuk menghasilkan bunyi-bunyi tertentu. Ujung lidah dapat ditempatkan pada gusi bawah gigi depan atas, yang disebut alveolar ridge, menghasilkan bunyi alveolar [t] tie dan [d] die. Bagian-bagian tersisa akan lebih baik dilihat melalui penampang mekanisme berbicara berikut ini.

Anatomy-of-Speech-Graphic

•••

Pusing? Butuh berpikir untuk menelaah ini? Makanya, segala sesuatu mesti dipikirkan. Mungkin akal bisa membantu?

Lihat, betapa nikmat Allah subhanallahu wa ta’ala begitu besar. Tidak heran, lisan yang terucap akan dipertanggungjawabkan karena memang berat. Berat ini artinya sebab rumit. Berbicara menjadi suatu proses yang tidak sederhana. Semua bagian-bagian fundamental saling terintegrasi dan masing-masing memiliki peran vital. Tanpa bibir yang berfungsi normal dan sempurna tak bisa seseorang dapat mudah berbicara seperti kasus pada penderita bibir sumbing. Atau tanpa gigi alias ompong. Bagaimanakah suara yang terdengar dengan tidak adanya gigi?

What I’m trying to say is, thankful? You name it.

•••

“… Dan betutur katalah yang baik kepada manusia, …” (TQS. Al-Baqarah [2]: 83)

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). …” (TQS. Al-Isra'[17]: 53)

“… Dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (TQS. Al-Ahzab[33]: 70)

Karin Sari Saputra | Sabt, 6 Safar 1436 H


Discover more from Karin Sari Saputra

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

2 thoughts on “Nih, yang mau cas-cis-cus: Pengantar

Leave a Reply