Akhir Dua Puluhan

Ada suatu benturan keras yang menyergap kepalaku, pusing sudah pasti. Namun, aku lebih merasa bingung luar biasa, tak mengerti. Aku hanya mengingat masa-masa yang tak seharusnya aku ingat, seperti sebuah robekan besar, yang walaupun susah payah harus kututup, takkan pernah rapat rapi menutup. Luka itu masih menganga. Aku tak kuasa. Satu hal dalam hidup yang selalu kudamba, yang kubiarkan waktu berlalu dan kuberharap. Sebuah penantian.

Penantian yang rasanya cukup untuk buatku takut dan makin tak bisa kumengerti rasanya. Ada dosa di masa lalu. Aku tak kuasa. Bisakah aku tegar?

Dua orang dipertemukan pada satu waktu, bisa bersama. Sungguh indah, bukan? Aku takut membayangkan hal itu. Adakah momen itu untukku? Aku rasakan atmosfir kebahagian dua insan yang menyatu. Luar biasa, bahkan Arsy pun berguncang, betapa hakikat cinta yang ada pada keduanya menjadi satu kekuatan baru. Yang membuatku takjub adalah dua cinta yang berpagut, betapa luar biasanya buatku. Aku hanya bisa merasakan itu seorang diri, selalu begitu. Dulu. Dan apakah sekarang pun sama?

Perasaan getir menyergapku. Aku selalu bisa bangkit dan memang tampak seperti itu. Entah bagaimana sebenarnya rapuhku. Kuat diriku menopang segalanya dan aku terus tumbuh untuk menguatkan diri. Aku tahu, keyakinan bahwa ada satu rasa yang akan bersambut, yang bukan hanya padaku saja. Dan kembali takut-takut kubertanya, adakah momen itu untukku?

Tangis tak bisa kubendung, rasanya begitu jauh perjalanan ini akan kulalui. Rasa trauma mungkin takkan tepat berlaku untukku, aku menolak trauma. Namun, sejujurnya, pertemuan pada momen yang mengguncangkan Arsy masih terasa belum mampu kujangkau, apakah mimpi? Semakin terasa kabur kubayangkan. Pantaskah aku?

Pantaskah aku membayangkannya?

Adakah momen indah itu?

Adakah penebusan perbaikan ini dapat melahirkanku kembali? Bisakah ada seseorang yang… bolehkah kukatakan, yang mampu menerimaku? Bisakah hilang khawatirku? Bisakah kutahan rasa sakit ini?

Ingin kusambut dirimu, mampu kah aku?

Bukan.

Adakah terulur tangan sampai kepadaku? Kepada ayahku? Kapankah itu?

Apakah aku harus bertanya pertanyaan menyedihkan ini, saat ini, karena hening sepi sendirinya sekitarku?

Bukan.

Ada dosa di masa lalu.

Kumohon ampunilah aku ya Rabb.

Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).

(QS az-Zumar: 53- 54).

Kuharap setelah ini ringan langkahku melepaskan semuanya dan menjadi semakin jauh lebih baik. Penantian itu harus diakhiri dengan indah, bukan? Kuserahkan kepada-Mu ya Rabb. Pasti ada untukku.

Karin Sari Saputra


Discover more from Karin Sari Saputra

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

3 thoughts on “Akhir Dua Puluhan

  1. Wah. Apa kabar karin?
    Sudah lama tidak mendengar kabar dan tiba tiba ada sebuah tautan artikel di twitter dari akun kamu.

Leave a Reply